ENTALAH INI SEBUAH PERASAANKU SAJA, MUNGKIN!!!
Aku sedang asik memandangi setiap aksara yang tertulis di
depan layar laptop-ku. Kubaca setiap
kata-kata magis di sana. Perempuan yang satu ini terlalu kesepian, kurasa. Ia banyak
menangis, mengeluh, dan mengasihani dirinya sendiri. Sesekali, aku dibuat
tertawa dan meringis karena membaca setiap kalimat yang tertulis di quote-quote para seniman.
Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis; walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat— BBM. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.
Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis; walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat— BBM. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.
Kehadiranmu
membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata
dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan
aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tak menyapaku melalui dentingan
chat BBM. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada
akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh; cinta.
Kamu
bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kaurasakan.
Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita. Sebenarnya,
aku sudah memberi perhatian itu tanpa kauketahui. Mungkinkah perhatianku yang
sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu? Aku mendengar ceritamu lagi.
Hatiku bertanya-tanya, seorang pria hanya
menceritakan perasaannya pada wanita yang dianggap dekat.
Aku
bergejolak dan menaruh harap. Apakah kausudah menganggap aku sebagai wanita
spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Senyumku mengembang
dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa cinta
mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan.
Saat
bertemu, kita tak pernah bicara banyak. Hanya sesekali menatap dan tersenyum
penuh arti. Ketika berbicara di BBM, kita begitu bersemangat, aku bisa
merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh, aku masih tak percaya
segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku
sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku
merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai bahwa
perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata
pertemanan kita. Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang
lebih.
Aku tak pernah ingin mengingat
kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian.
Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku
hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya wanita
yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.
Salahku
memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan
jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi sebab
tawa dan senyumku, aku percaya kautak mungkin membuatku sedih dan kamu tak akan
jadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku
sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah kebodohan
yang harus kusesali.
Komentar
Posting Komentar