Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

FILSAFAT PANCASILA (sila 1)

             "Tentu tidak salah apabila orang memperguankan sila ketuhanan bagi dirinya sendiri untuk mengharuskan diri sendiri bertuhan. Juga tidak salah apabila orang mempergunakan sila ketuhanan untuk mengajak atau mendorong orang lain untuk bertuhan. Itu semua bukan soal Ilmiah atau tidak ilmiah, melainkan soal hak untuk mengartikan Pancasila bagi diri sendiri".               Dalam hubungan dengan ini pertanyaan yang penting ialah : bolehkah perubahan tafsiran (sebagai keharusan bertuhan) itu terjadi. Untuk menjawab pertanyaan itu perlu dipertimbangkan dalam-dalam hal berikut. Pertama, pancasila sebagai suatu sistem perlu terbuka, jadi perubahan itu mungkin dan boleh saja terjadi. Kedua, tetapi perlu disadari bahawa perubahan penafsiran itu cukup asasi, karena menyerempet ide dasarnya. Dengan perubahan menjadi prinsip keharusan bertuhan atau beriman (secara teologis agamawi) kepada Tuhan,...

IMAJINASIKU

Perjumpaan tak kasat mata membutuhkan segudang imajinasiku, untuk membayangkan sedang apa kamu di kursimu memberikan aku sedikit pekerjaan dalam membenakkan diri dalam lamunan mengukir senyum dan tawa dalam raut muka seperti orang gila.. hahahahahah !!!! aku tertawa dan tersenyum kala perpesanan gaib kita lebih seru dari sebuah pertemuan rasanya ingin seperti ini, bahagia tanpa alasan mengenal siapa dirinya. :) lalu ada  pintu hati yang terbuka, kala perpesanan kita semalam suntuk begitu mengasyikan, melupakan bahawa bermain imajinasi hanya akan membuat khayalan tanpa kenyataan. segelas kopi sudah ku buat demi menyambung perbincangan hangat sambil berharap jarakmu dan jaraku tak begitu sulit untuk ditentang.. rasanya berbeda seperti ada manis-manisnya ,,, imajinasiku membuatku terus mengsketsa raut dan garis senyummu.. imajinasiku yang akan juga membuatku runtuh dengan kenyataan. imajinasiku terus bermain dan berputar2 dengan sosok humorismu, halahhh, siapa yang sedan...

kelabu

ada yang mulai pergi kemudian datang lagi membawa tragedi luka teringat lagi menampakan wajah penuh malu tertunduk pada memori masalalu sepasang mata nampak tertera melirik kalbu mencuatkan gelora meringis wanita tak penuh tahu mempasrahkan diri pada nafsu nafasmu , aroma mu melekat dalam buaian lelap menyesakan tangis yang tersisa